UTS CI : Mahasiswa Berkarya

Mahasiswa, menurut saya adalah waktu dimana kita memiliki peluang untuk dapat mengembangkan diri, menjadi produktif, dan berkarya sebanyak-banyaknya, sehebat-hebatnya. Bukan berarti hanya dalam jenjang mahasiswa kita dapat membuat karya yang paling hebat, tetapi dalam tahap ini kita dapat mengembangkan kemampuan berpikir, memperluas relasi dengan banyak orang, dan juga tetap bersenang-senang, menikmati masa muda. Ya, belum ada kewajiban yang terlalu berat berat yang harus dipikul bila dibandingkan jika kita sudah bekerja. Orang tua, suami/istri, dan anak adalah kewajiban utama bila kita telah dapat berpenghasilan secara tetap. Sedangkan mahasiswa, bisa melakukan semuanya tanpa beban, sekreatif mungkin, dan bahkan mungkin menjadi individualis. Individualis yang saya maksud disini adalah berjuang mementingkan diri sendiri agar dapat menjadi individu yang lebih baik, yang berguna untuk lingkungan sekitar, dan bahkan untuk negara ini. Bila seperti itu, menjadi individualis adalah sah.

Otak manusia diciptakan dengan sebegitu luar biasanya. Kemampuannya dalam berkreasi tidak perlu diragukan. Hal inilah yang harus dapat dimanfaatkan oleh para mahasiswa untuk memberikan penghidupan yang lebih baik untuk sekitarnya. Menurut saya, seorang mahasiswa sudah harus dapat menjadi individu yang kreatif orientasional, yang dapat memanfaatkan sumber daya yang ada sehingga lebih berguna untuk khalayak ramai. Tetapi mahasiswa juga mempunyai pilihan untuk dapat berkembang lebih dari itu. Mahasiswa tentu saja dapat menjadi sosok orang yang kreatif secara inovasional, yang dapat menciptakan kreativitas baru dari pihak lain. Saya, sebagai mahasiswa Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB, merasakan dan melihat adanya kreativitas inovasional dari para mahasiswa SBM ITB. Yang saya maksud disini adalah tentang organisasi “Satoe Indonesia”, sebuah organisasi non profit yang bergerak dalam memajukan dan mengembangkan suatu desa agar menjadi desa yang mandiri.

Hal ini tentu tidaklah mudah. Butuh kemauan, semangat, visi, dan kerjasama (relasi) yang kuat untuk dapat membentuk organisasi ini. Dan buktinya, organisasi ini telah berhasil berdiri selama 8 tahun. Satoe Indonesia memiliki banyak kegiatan, di antaranya adalah pemanfaatan sumber daya alam di Ciwidey yang berupa sayur-sayuran dan buah-buahan. Keberhasilan pertama yang dicapai oleh warga Ciwidey dengan bantuan Satoe Indonesia adalah mendistribusikan sayur dan buah dari perkebunan mereka ke super market besar di Jakarta, Carefour. Tidak berhenti disitu, keberhasilan kedua adalah pengolahan sayur dan buah menjadi suatu jenis makanan baru yaitu kurma tomat dan dodol strawberry. Produk ini juga telah dijual di pertokoan. Ini merupakan suatu pembuktian bahwa Satoe Indonesia, sebagai organisasi kreatif yang telah dibentuk oleh mahasiswa SBM ITB, telah memberikan peluang-peluang baru untuk warga ciwidey dalam mengreasikan sumber daya alam yang mereka miliki sehingga menjadi lebih bermaanfaat untuk banyak orang.

Kreasi yang telah diciptakan oleh Satoe Indonesia telah memberikan 4 tipe inovasi kepada warga Ciwidey, yaitu inovasi teknologi, inovasi proses, inovasi produk dan jasa, juga inovasi model bisnis. Pastinya kami semua berharap agar inovasi-inovasi ini dapat diteruskan sehingga desa di Ciwidey dapat menjadi desa yang benar-benar maju dan mandiri.

Memang, kita tidak perlu meragukan kemampuan mahasiswa dalam memanfaatkan otak kreatif dan inovatifnya. Yang menjadi permasalahan ialah seringkali kemampuan tersebut tidak disalurkan. Apa penyebabnya? Menurut saya, hal utama yang sering menjadi penghambat adalah diri sendiri. Bila tidak ada niat yang cukup kuat untuk berkreasi dan berinovasi, maka tidak akan ada perubahan yang terjadi. Niat dan kemauan yang tinggi akan dapat mengalahkan segalanya, dalam artian media penyokong suatu aksi tidak akan menjadi masalah jika niat yang dimiliki menghasilkan usaha yang juga tinggi.

Di era sekarang ini, saat informasi sangat mudah didapatkan dari berbagai media, penyebaran informasi tentang kegiatan-kegiatan kreatif diharapkan dapat menjadi sarana bagi para mahasiswa untuk mengembangkan kreativitas dalam dirinya. Mereka yang mengalami kesulitan dalam menyalurkan kemampuan kreativitasnya dapat mengikuti perkembangan informasi tentang kreativitas dan bahkan terjun langsung mengikuti kegiatan yang mendukung pengembangan kreativitas diri tersebut. Kemudahan penyebaran informasi ini, seperti yang dikatakan oleh Thomas Friedman dalam bukunya yang berjudul “The World Is Flat”, mempengaruhi perkembangan seseorang dalam menghadapi globalisasi. Sebagai generasi muda, tentunya mahasiswa harus secara kreatif dapat menguasai informasi-informasi yang ada agar dapat bersaing, bertahan, dan melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain. Dengan kreativitas, saya percaya  bahwa akan ada kehidupan yang lebih baik dan penuh manfaat bagi kita semua.

Dan sepertinya menjadi orang yang semakin kreatif, semakin gila dalam berpikir, semakin tidak normal dalam melihat sesuatu, adalah cara hidup yang baru.

Dan mengucapkan “Call it Crackpot” adalah sah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s